Senin, 05 Januari 2009
Golput Pilihan Yang Harus Dihormati
Tidak memberikan suara atau tidak memilih partai atau Caleg manapun atau istilahnya Golongan Putih dalam Pemilu, merupakan sebuah pilihan pemilih yang juga harus dihormati. Oleh sebab itu, istilah mengharamkan Golput tidaklah beralasan.
Seperti Statement yang dikeluarkan oleh MUI, bahwa MUI mengharamkan pemilih Golput sangatlah tidak beralasan. Bahkan tidak salah bila masyarakat nantinya beranggapan statement tersebut bernuansa politis yang artinya MUI dipolitisir.
Disebutkan pengamat dan pakar politik Riau Andi Yusran, tidak memilih dalam Pemilu yang dilakukan oleh pemilih adalah merupakan sebuah pilihan. Bisa diartikan pemilih memilih untuk tidak mencoblos karena berbagai alasan.
“Tidak mencoblos menurut hemat saya adalah sebuah pilihan, jadi pilihan pencoblos itu harus dihormati,” kata Andi.
Sedangkan beberapa alas an kenapa pemilih tidak memilih atau mencoblos, salah satunya adalah pemilih beranggapan dengan dirinya tidak mencoblos pun tidak akan mengubah keadaan, atau dengan tidak mencoblos keadaan akan tetap berubah,” jelas Andi.
Dicontohkannya, di Amerika yang terkenal dengan demokrasinya beberapa waktu lalu pernah terjadi jumlah Golput hingga 60 persen. Ini bukan karena kesadaran politik warga Amerika masih rendah,” katanya**Andi
Sabtu, 03 Januari 2009
...
Dan ketika semua angan enggan menyapa
Terbaring aku, terjebak aku
Di keheningan dalam ketiadaan
Kucoba cahayai ruang jiwa ini
Terus berharap dan terangi
Kucoba sembunyikan suara hati
Terus menampik dan berlari
Kutenggelam dalam kelam
Dan menjauh tanpa bayang
Kucoba menelan luka yang tak kunjung usai
Teriakan namamu
Dikesunyian hatiku
Meraba, merangkul suryamu
Dikehangatan jiwamu
Saat kebenaran tak lagi bermakna
Aku tersandar dan terdiam
Kemana akan kubawa diriku pergi
Semakin jauh, semakin rapuh
Lepaskan diri, jatuh membusuk
Biarkan aku, hilang .. Muak !
Terluka .. Aku .. Mencari
From: Burgerkill-Tiga Titik Hitam
www.burgerkillofficial.com
Minggu, 28 Desember 2008
Polda Tabrak Inpres, RAPP Bohongi Publik
Keputusan SP3 tersebut dinilai sangat merugikan banyak pihak, khususnya bagi penegakan hukum atas kasus illog di Riau. “Hutan Riau ini hancur akibat ulah illegal logging perusahaan tersebut,” ungkapnya.
Menurut Harijal, pelaksanaan Inpres ini terkesan setengah-setengah. Bahkan dengan diSP3kannya 13 kasus ini sangat kental dengan nuansa politis. “Kita lihat saja aksi RAPP yang akan melakukan PHK buruh secara besar-besaran dengan alasan kekurangan bahan baku,” katanya.
Terkait itu, alasan kekurangan bahan baku dua perusahaan ini dibantah keras oleh Harijal. Hingga Oktober 2008, berdasarkan data yang ada produksi RAPP dan IKPP cenderung stabil. Bahkan dari tahun 2006 hingga 2007 justru meningkat.
“Ini sebuah pembohongan RAPP terhadap publik, nyatanya hingga Oktober 2008 ini realisasi produksi RAPP sudah mencapai 7.1 juta m3 dari targetnya sebanyak 8 juta m3 lebih. Kita justru yakin dalam dua bulan ini (November-Desember) target produksi RAPP tahun 2008 pasti akan tercapai,” kata Harijal
Jangan Biarkan Politisi Busuk Bercokol di Legislatif
Pasca Amandemen UUD 45, lembaga legislatif menjadi lembaga yang powerful karena memiliki fungsi pengawasan, legislasi, dan intermediasi. Selain itu, legislatif mempunyai hak budget, hak protokoler, sampai hak imunitas. Dalam Pemilu 2009 mendatang, diperkirakan akan banyak Politisi busuk yang tampil memperebutkan kursi di lembaga legislatif di Indonesia.
Gerakan Anti Politisi Busuk bukan hanya mencegah masuknya para politisi busuk di kursi dewan tetapi juga mencegah pembusukan politik (political decay). Pembusukan politik lembaga negara sama saja dengan menebar racun kepada bibit tanaman. Akibatnya, bukan hanya kematian bagi demokrasi, tetapi kehancuran legitimasi penyelenggaraan negara.
Menyikapi hal tersebut, NGO Fitra Riau akan menggelar diskusi dengan tema Politisi Busuk. Rencananya, diskusi akan digelar Rabu (31/12) di kantor Yayasan Riau Mandiri Pekanbaru. Dalam diskusi ini akan hadir empat orang Caleg Riau, beberapa NGO serta wartawan dari berbagai media massa di Riau.
Menurut Fahriza, aktivis NGO Fitra Riau, bila lembaga legislatif diisi politisi busuk yang pernah melakukan kesalahan seperti korupsi, pelanggaran HAM serta kebusukan lainnya, akan terjadi perlindungan terhadap kesalahan di masa lalu. Bahkan tujuan-tujuan nasional yang lebih besar akan terhimpit oleh kepentingan politisi busuk ini.
Fahriza berharap, Gerakan Anti Politisi Busuk ini bukan hanya gerakan elistis yang dilakukan penggagasnya, namun juga menjadi gerakan dilakukan oleh rakyat. “Bisa dibayangkan kalau politisi busuk ini bercokol di lembaga legislatif,” kata Fahriza
Selasa, 24 Juni 2008
Selasa, 17 Juni 2008
Incumbent dan Independent
Oleh: Andi Affandi
Tak lama lagi Riau akan menentukan sendiri siapa yang akan menakhodai perahu Riau ini hingga tahun 2013. Beberapa calon kemudian menyatakan ikut dalam Pemilihan Gubernur Riau nanti.
Berbagai persiapan mulai terlihat, yang tak kalah menakjubkan adalah sang Incumbent, hingga urusan pemerintahan pun tampaknya dijadikan ajang kampanye.
Sebut saja Musabaqah Tilawatil Quran di Siak Sri Indrapura beberapa waktu lalu, pendukung dan tim sukses sang calon Incumbent sibuk membagi-bagikan aneka ragam souvenir yang menampilkan wajah sang Incumbent.
Di penghujung masa jabatannya, sang Incumbent juga berbagi kalender kepada ratusan guru dalam acara penganugrahan rekor MURI kepada Drs. Isjoni Ishaq di hotel sahid. Kontan saja, acara ini kemudian terasa kental dengan aroma politik.
Tak sampai disitu, sang incumbent juga bagi-bagi duit kepada seluruh lurah dan kepala desa di Riau dalam topeng Rakor yang juga digelar di Hotel Sahid. Dalam acara ini bahkan lebih kental lagi aroma politiknya.
Bahkan hingga begitu bersemangatnya, di depan sang Incumbent seorang Kepala Desa kemudian menyatakan dukungan seluruh Kepala Desa dan Lurah bahwa mereka mendukung sang Incumbent.
Sebelum mengundurkan diri, diakhir masa jabatannya yang hanya dalam hitungan hari ini, setelah siaran di RRI sang Incumbent juga bagi-bagi souvenir kepada belasan wartawan.
Tak tanggung-tanggung, sang Incumbent mempersilahkan wartawan untuk memilih sendiri barang yang dinginkan di salah satu toko kelas wahid di Pekanbaru yang harganya wah..!, tentu tak terjangkau oleh kelas menengah ke bawah.
Benarkah hal diatas ada kaitannya dengan ambisi incumbent dalam Pemilihan Gubernur Riau nanti? Wallahuallam, entah Incumbent yang satu ini memang pemurah atau ada udang dibalik batu.
Bila ada hubungannya, akankah bagi-bagi uang dan souvenir akan menambah dukungan dan suara rakyat akan masuk e kantong sang Incumbent?
Belum tentu, saat ini kesadaran masyarakat Riau dalam berpolitik bisa dinilai cukup maju. Money politik serta bagi-bagi souvenir diprediksi tidak akan berpengaruh pada perolehan suara sang Incumbent.
Sama juga halnya dengan Incumbent yang bagi-bagi souvenir kepada wartawan, bahwa pers yang independent bukanlah seharga sehelai baju ratusan ribu, pers tidak bisa dinilai dengan sebotol parfum import dari prancis, apalagi dengan segelas cappuccino di le gossip.
Semoga saja kesadaran berpolitik rakyat negeri ini benar-benar maju, karena kita benar-benar ingin memilih pemimpin yang mampu menakhodai perahu Riau ini menuju kesejahteraan, tak hanya memberikan janji-janji manis saja***